4. Jelaskan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi fluktuasi nilai tukar kurs, misalnya US$ terhadap Rupiah, baik dari sisi permintaan maupun dari sisi penawaran mata uangnya?
nama: panji gahara andafa
kelas: 3ea03
npm: 11220241
a. Perbedaan Angka Inflasi
Secara umum, suatu negara dengan tingkat inflasi yang konsisten lebih rendah menunjukkan peningkatan nilai mata uang, sebagaimana daya belinya relatif meningkat terhadap mata uang lainnya. Selama paruh terakhir abad kedua puluh ini, negara-negara yang inflasinya rendah termasuk Jepang, Jerman dan Swiss, sedangkan Amerika Serikat dan Kanada mencapai inflasi yang rendah kemudian. Negara-negara dengan inflasi yang lebih tinggi biasanya akan mengalami depresiasi pada mata uang mereka jika dibandingkan dengan mata uang mitra dagang mereka. Hal ini juga biasanya disertai dengan tingkat suku bunga yang lebih tinggi.
b. Perbedaan pada Suku Bunga
Suku bunga, inflasi dan nilai tukar sangat berkorelasi satu sama lain. Dengan memanipulasi suku bunga, bank sentral, dalam hal ini Bank Indonesia, memiliki pengaruh terhadap inflasi dan nilai tukar sehingga mengubah tingkat suku bunga berdampak pada perubahan inflasi dan nilai mata uang. Suku bunga yang lebih tinggi menawarkan keuntungan lebih bagi kreditur (pemberi pinjaman) relatif lebih tinggi daripada negara-negara lain. Oleh karena itu, suku bunga yang lebih tinggi menarik modal asing dan menyebabkan nilai tukar naik. Tentu hal ini juga berlaku sebaliknya, yakni suku bunga yang lebih rendah cenderung menurunkan nilai tukar. Namun, dampak baik dari suku bunga yang lebih tinggi ini kurang berarti, jika inflasi di dalam negeri jauh lebih tinggi dari pada negara lain, atau jika faktor lain yang menjadi pendorong nilai mata uang turun
c. Defisit Akun Berjalan
Transaksi berjalan adalah neraca perdagangan antara negara dan mitra dagangnya yang merupakan semua pembayaran antar negara untuk barang, jasa, bunga, dan dividen. Defisit transaksi berjalan menunjukkan negara ini menghabiskan lebih banyak dana pada perdagangan luar negeri daripada pendapatannya, dan karena itu harus meminjam modal dari sumber-sumber asing untuk menutupi kerugian.
Dengan kata lain, negara membutuhkan lebih banyak mata uang asing dari yang diterimanya melalui penjualan ekspor, dan memasok lebih dari mata uang sendiri daripada permintaan mata uang asing untuk produk-produknya. Kelebihan permintaan untuk mata uang asing menurunkan nilai tukar mata uang dalam negeri. Penurunan ini akan terus terjadi sampai barang dan jasa domestik dianggap cukup murah untuk orang asing, dan aset asing terlalu mahal untuk dijual demi kepentingan dalam negeri.
d. Utang Publik
Negara akan terlibat dalam pembiayaan bea cukai besar-besaran untuk membayar proyek-proyek sektor publik dan pendanaan pemerintah untuk merangsang ekonomi domestik. Padahal, faktanya, negara-negara dengan defisit publik dan utang yang besar kurang menarik bagi investor asing. Alasannya? Sebuah utang besar mendorong inflasi, dan jika inflasi tinggi, utang tak akan dibayar seketika dan akhirnya dibayar dengan dolar nyata lebih murah di masa depan.
Dalam skenario yang mustahil, pemerintah mungkin mencetak uang untuk membayar sebagian dari hutang yang besar, tetapi meningkatkan jumlah uang yang beredar pasti menyebabkan inflasi. Apalagi, jika pemerintah tidak dapat mengatasi defisit melalui cara-cara dalam negeri (menjual obligasi dalam negeri, meningkatkan jumlah uang beredar), maka harus meningkatkan pasokan penjualan sekuritas asing, sehingga menurunkan harga mereka. Akhirnya, utang besar dapat menimbulkan kekhawatiran bagi orang asing, yakni ketika mereka percaya bahwa negara berisiko men-default (memutihkan) utang-utangnya. Orang asing akan kurang bersedia untuk memiliki surat berharga dalam mata uang risiko dalam negeri jika defaultnya besar. Untuk alasan ini, peringkat utang negara (sebagaimana ditentukan oleh Moody atau Standard & Poor,
e. Ketentuan Perdagangan
Sebagai rasio yang membandingkan harga ekspor dan impor, ketentuan perdagangan yang terkait dengan rekening giro dan neraca pembayaran. Jika harga ekspor suatu negara meningkat dengan tingkat yang lebih besar daripada impornya, Ketentuan perdagangannya baik dan menguntungkan. Peningkatan ketentuan perdagangannya menunjukkan permintaan yang lebih besar untuk ekspor negara itu. Hal ini, pada akhirnya, menyebabkan meningkatnya pendapatan dari ekspor, yang menyediakan peningkatan permintaan untuk mata uang negara (dan peningkatan nilai mata uang). Jika harga ekspor naik dengan tingkat yang lebih kecil daripada impornya, nilai mata uang akan menurun secara relatif terhadap negara mitra dagang.
5. Stabilitas Politik dan Kinerja Ekonomi
Investor asing pasti mencari negara yang stabil dengan kinerja ekonomi yang kuat di mana untuk membangun modalnya. Sebuah negara dengan situasi positif seperti itu akan menarik dana investasi dari negara-negara lain yang dianggap memiliki resiko politik dan ekonomi. Kekacauan politik, misalnya, dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan terhadap mata uang dan pergerakan modal beralih pada mata uang dari negara-negara yang lebih stabil.
Komentar
Posting Komentar